Ibu, Manjamu Adalah Ladang Pahala Bagiku


Ibu, Manjamu Adalah Ladang Pahala Bagiku | Dahulu saat engkau terbaring lemah karena penyakit yang menggerogoti tubuh, disitu aku, “ARIEF” di uji dalam sebuah perjalanan kehidupan. Aku sadar, tanpamu akupun takkan berada di dunia ini, karenamulah aku terlahir, karenamulah aku banyak memahami arti hakikat dalam kehidupan ini, dan karena ALLAH-lah, kita punyai peran masing-masing, engkau sebagai ibuku, dan aku sebagai anakmu.

Ibu, Manjamu Adalah Ladang Pahala Bagiku

Peranmu sebagai ibu yang bijak dalam kehidupanku

Apabila aku mengingat kisah kita kembali, terlukiskan langsung bayang-bayangmu di memory, tak bisa ku rinci kenangan-kenangan kala itu, semua berharga dan banyak makna. Salah satunya caramu mengajarkanku bagaimana menjadi wirausaha yang baik.

Kala itu engkau adalah penjual jamu tradisional di desaku, setiap paginya tak lelah engkau untuk bangun pagi, bahkan sangat aku ingat ucapanmu yang manis “Nak? Bangunlah, sudah shubuh, laksanakan sholat! Aku pun segera bergegas.

Fajar pagi mulai muncul dari timur, ku buka pintu rumah, sejenak menghirup udara yang sejuk samping rumah, terdengar teriakan “Nak? Ayo kepasar. “Iya bu, ayooo,,,, “Jawabku.

Kita berdua pun berangkat ke pasar, dan mencari bahan-bahan tradisional, rempah-rempah untuk di ulek menjadi resep jamu jawi, lalu sepulangnya dan sampai rumah, barulah ku siapkan beberapa peralatan untuk memproses rempah-rempah yang sudah tersedia.

Di situ engkau benar-benar menjadi ibu yang siaga dalam segala hal, di samping membuat jamu, di sisi lain engkau pula yang memasak makanan untuk keluarga ini, bahkan perjuanganmu disini tak kalah hebatnya dengan ayahku yang mungkin setiap harinya rutin dalam mencari nafkah. Sambil ku perhatikan wajahmu, hembb,, “Sungguh engkau ibu yang luar biasa.

Ketika jamu sudah mulai siap untuk di jual, ku do’akan engkau sebelum berangkat, semoga selalu selamat dalam perjalanan, dan semoga banyak pembeli di hari ini, dan seterusnya pun seperti itu.

Lalu aku berlari untuk melihat caramu menawarkan jamu tersebut, datang satu orang engkau lempar dengan senyuman yang teramat dalam manisnya. “Monggo teng mriki, mumpung tasek anget-angetnya ini jamunya, “Sambil engkau tersenyum kepada para pembeli [Dalam bahasa Indonesia silahkan ke sini, mumpung jamunya masih hangat]. Cuman dalam bahasa jawa, hal itu lebih halus tutur sapa’annya.

Sambil melayani pembeli, engkau pun tak malu-malu untuk mengajak ngobrol mereka, engkau tanyakan aktifitasnya, engkau tanyak pula hal-hal yang membuat mereka senang dan betah saat di layani. Intinya engkau benar-benar punya magnet yang luar biasa bagiku, dan engkau pula telah Menciptakan Magnet Cinta dalam Kehidupanku.

Sepulangnya dari menjual jamu, engkau bawakan aku kue, dan makanan-makanan kesukaanku, kita makan bersama. Baru sampai rumah saja, sedikitpun engkau tak lupa memperhatikan anakmu ini, meskipun aku lihat engkau sudah capek. Perhatian-perhatian inilah yang membuatku luluh, lalu ku biarkan engkau untuk beristirahat dan tidur sejenak, seperti inilah setiap harinya.

Tibalah Waktunya Aku yang Memanjakanmu

Ketika engkau sudah lemah tak berdaya karena penyakit itu, jangankan untuk berdiri, makan saja sangat sulit, dan tangan tak bisa untuk mengarahkannya ke mulut, “sungguh, siapapun yang berada di sampingmu kala itu pasti tak tega, mungkin hanya aku dan malaikat saja yang menyaksikannya, termasuk ALLAH TA’ALA.

Masih terkenang, dan tak pernah aku lupa ketika engkau sudah bangun dahulu di pagi hari, yang engkau sebut pertama kali adalah nama anakmu ini, engkau meminta duduk dan keluar di samping rumah, aku gendong dengan rasa tak berdayaku melihatmu kala itu.

Kita berada di samping rumah, kita pun merasakan semilir angin yang sejuk, lalu engkau berkata. “Nak, ibu senang kalau kamu yang menemani, kamu lebih lembut memperlakukan ibu, ibu tidak senang kalau di temani yang lain, mereka kasar-kasar kepada ibu.

Mendengar ucapan ini, langsung ku peluk engkau erat-erat, dan ku kecup keningmu, “Iya bu, sudah merupakan baktiku kepadamu, dan ini sudah tugasku “Tuturku dalam hati yang paling dalam.

Setelah beberapa waktu lamanya menikmati udara di samping rumah, kemudian engkau meminta untuk mandi. Disitupun aku menyaksikan betapa mulianya engkau dahulu yang memandikanku ketika aku masih menjadi bayi, kini giliranku yang berbakti padamu, ku sisir rambutmu seusai mandi, ku taburkan bedak secukupnya ke wajahmu yang lembut.

Sehabis itulah, kemudian engkau berucap lagi, “Nak, boleh g? Ibu cium kamu, “Tanpa tunggu waktu lama, aku pun segera menciumnya dan memeluknya dengan penuh ketulusan yang mendalam. Bagiku, ini adalah hal yang luar biasa, sungguh kelak akupun akan menjadi orang tua, semoga anak-anakku pun nanti berbakti padaku..Aamin

Begitulah sobat kata mata hati, kenapa manjanya seorang ibu adalah ladang pahala bagiku. Untuk sobat yang saat ini masih mempunyai ibu, jangan lupakan yah untuk berbakti. Semoga kisah inspiratif kali ini banyak manfaatnya untuk para pembaca di manapun berada.

Note : Dalam kisah ini tidak di maksudkan untuk sombong yah? Ini adalah sebuah cerita yang semoga dapat menginspirasi para sahabat sekalian 

Artikel Kata Mata Hati Lainnya :

0 comments:

Post a Comment

Scroll to top